Bank SulutGo 2025, Kinerja Solid dan Tantangan Menjaga Kualitas Pertumbuhan

Koran Manado News- Sepanjang tahun 2025, Bank SulutGo menunjukkan kinerja yang patut diapresiasi sebagai bank pembangunan daerah di tengah tantangan perlambatan ekonomi global dan nasional. Ketika perekonomian dunia memasuki fase low growth yang penuh kehati-hatian, Bank SulutGo mampu menjaga stabilitas usaha, memperkuat fundamental keuangan, serta tetap berperan aktif dalam mendukung perekonomian Sulawesi Utara dan Gorontalo.

Secara makro, kondisi ini sejalan dengan kinerja ekonomi regional yang relatif solid. Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara yang berada di atas rata-rata nasional memberikan ruang bagi perbankan daerah untuk tetap menjalankan fungsi intermediasi, meskipun tekanan eksternal dan ketidakpastian global belum sepenuhnya mereda. Dalam konteks tersebut, capaian Bank SulutGo sepanjang 2025 dapat dibaca sebagai hasil dari pengelolaan yang semakin berhati-hati dan profesional.

Bacaan Lainnya

Prof. Joy E. Tulung, SE, M.Sc., Ph.D
Guru Besar FEB Unsrat / Ketua ISEI Cab. Manado Sulut

Dari sisi kinerja keuangan, pertumbuhan laba yang signifikan menjadi salah satu sorotan utama. Laba yang meningkat lebih dari 24 persen (yoy) mencerminkan perbaikan profitabilitas, yang juga tercermin pada kenaikan Return on Asset (ROA) menjadi 1,65 persen dan Return on Equity (ROE) sebesar 17,19 persen. Likuiditas bank juga menunjukkan perbaikan, dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) yang turun ke level yang lebih sehat. Capaian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan Bank SulutGo tidak semata bersifat ekspansif, tetapi juga disertai upaya penguatan struktur keuangan.

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga yang cukup tinggi mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap Bank SulutGo. Bagi bank daerah, kepercayaan publik merupakan aset strategis. Tanpa kepercayaan, fungsi intermediasi tidak akan berjalan optimal. Dalam hal ini, Bank SulutGo berhasil menjaga persepsi positif masyarakat di tengah persaingan industri perbankan yang semakin ketat.

Namun demikian, sebagai seorang akademisi ekonomi, saya memandang kinerja tersebut secara proporsional. Pertumbuhan kredit yang relatif moderat serta kenaikan rasio kredit bermasalah (NPL) perlu dicermati sebagai sinyal penting. Walaupun NPL masih berada di bawah ambang batas yang ditetapkan regulator, tren kenaikan ini mengingatkan kita bahwa ekspansi ke depan harus semakin selektif dan berbasis manajemen risiko yang kuat.

Dalam pandangan saya, tahun 2025 dapat disebut sebagai tahun konsolidasi. Bank SulutGo berhasil menjaga kinerja di tengah tekanan, namun tantangan ke depan justru menuntut strategi yang lebih matang. Fokus ke depan tidak lagi semata pada seberapa cepat bank bertumbuh, tetapi seberapa berkualitas pertumbuhan tersebut.

Ke depan, terdapat beberapa catatan penting yang menurut saya perlu menjadi perhatian. Pertama, arah ekspansi kredit perlu semakin difokuskan pada sektor-sektor produktif unggulan daerah, seperti pertanian, perikanan, pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif. Pembiayaan yang terhubung dengan aktivitas ekonomi riil akan memberikan dampak berganda bagi perekonomian daerah sekaligus memperkuat kualitas portofolio kredit bank.

Kedua, penguatan manajemen risiko dan kualitas aset menjadi kunci. Dalam situasi global yang masih rentan, kehati-hatian bukanlah tanda perlambatan, melainkan prasyarat keberlanjutan. Sistem peringatan dini, kualitas analisis kredit, serta pengelolaan kredit bermasalah perlu terus diperkuat agar stabilitas bank tetap terjaga.

Ketiga, diversifikasi sumber pendapatan juga menjadi penting. Ketergantungan yang terlalu besar pada pendapatan bunga akan semakin menantang di tengah volatilitas suku bunga dan perubahan perilaku nasabah. Inovasi layanan, pengembangan pendapatan berbasis jasa, serta pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi sumber pertumbuhan baru.

Keempat, transformasi digital perlu ditempatkan sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas tata kelola, bukan sekadar modernisasi sistem. Digitalisasi yang tepat akan memperkuat transparansi, mempercepat layanan, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

Pada akhirnya, kinerja Bank SulutGo sepanjang 2025 patut diapresiasi, tidak hanya sebagai capaian korporasi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga denyut perekonomian daerah. Tantangan 2026 dan seterusnya tentu tidak ringan, mulai dari ketidakpastian global hingga dinamika fiskal daerah. Namun, dengan fondasi yang telah dibangun, Bank SulutGo memiliki peluang untuk terus bertumbuh secara sehat.

Bagi saya, ukuran keberhasilan bukan sekadar angka pertumbuhan tahunan, melainkan kemampuan bank untuk tumbuh konsisten, berdaya tahan, dan relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah. Pertumbuhan yang baik adalah pertumbuhan yang mampu berjalan jauh, tidak tergesa-gesa, tetapi kokoh dan berkelanjutan.

(Penulis : Prof. Joy E. Tulung, SE, M.Sc., Ph.D
Guru Besar FEB Unsrat / Ketua ISEI Cab. Manado Sulut)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *