Bitung, Koranmanadonews.com- Nama itu tak asing di lingkar pelabuhan. Pelindo mencatatnya sebagai bagian dari generasi manajerial yang tumbuh dari bawah, bukan figur yang lahir dari karpet merah kekuasaan.
Alex Sitorus memulai dari posisi manajer, naik menjadi Deputi GM, lalu dipercaya sebagai General Manager.
Sebuah tangga karier yang ditempuh setapak demi setapak—tanpa lompatan instan.
Di Bitung, ia bukan sekadar pejabat struktural. Ia tercatat sebagai GM pertama terminal peti kemas di kota pelabuhan itu.
Sebuah fase penting ketika tata kelola, sistem operasional, dan kultur kerja sedang dibangun dari fondasi.
Terminal peti kemas Bitung bukan hanya proyek fisik, tetapi proyek manajerial: membentuk ritme bongkar muat, memastikan efisiensi logistik, sekaligus membangun kepercayaan para pelaku usaha.
Perjalanan kariernya tak berhenti di Sulawesi Utara. Ia kemudian dipercaya sebagai Direktur Operasi di Terminal Peti Kemas Indonesia di Jakarta.
Di level ini, ia tak lagi hanya mengelola satu titik pelabuhan, melainkan membaca peta operasi yang lebih luas—alur distribusi, integrasi sistem, hingga dinamika persaingan logistik nasional.
Yang menarik, selepas pensiun, energi itu tak surut. Jaringannya tetap terpelihara.
Relasi profesionalnya lintas kota dan lintas sektor. Ia masih hadir dalam forum-forum diskusi, masih menjadi rujukan dalam percakapan soal manajemen pelabuhan dan pengembangan kawasan maritim.
Dalam banyak kasus, pensiun adalah titik henti. Bagi sebagian figur lain, pensiun justru menjadi ruang refleksi dan reposisi.
Di sinilah percakapan publik mulai bergerak.
Beberapa waktu terakhir, beredar kabar dari lingkar partai di tingkat pusat—sebuah bocoran yang masih anonim—yang menyebut nama Alex Sitorus masuk dalam radar untuk memimpin salah satu partai di Kota Bitung.
Belum ada konfirmasi resmi. Belum ada deklarasi. Namun, dinamika politik memang kerap dimulai dari ruang-ruang sunyi seperti itu.
Mengapa nama ini yang muncul?
Bitung adalah kota pelabuhan. Kota industri.
Kota yang denyut ekonominya sangat ditentukan oleh kelancaran arus barang dan investasi.
Figur dengan latar manajerial, jaringan nasional, serta pengalaman memimpin sistem operasional besar tentu memiliki daya tarik tersendiri.
Partai politik, dalam konteks tertentu, tak lagi hanya mencari figur populer, tetapi figur yang dianggap mampu membaca arah pembangunan.
Tentu saja, politik bukan pelabuhan. Ia lebih cair, lebih riuh, dan sering kali tak linear.
Dunia manajemen mengajarkan keteraturan, sementara politik kerap bergerak dalam negosiasi dan kompromi.
Namun sejarah menunjukkan, tak sedikit profesional yang kemudian menemukan panggilan baru di ruang publik.
Apakah Alex Sitorus akan benar-benar melangkah ke sana?
Jawabannya masih menggantung. Bisa jadi ini sekadar wacana. Bisa jadi pula ini awal dari babak baru.
Yang pasti, rekam jejak profesionalnya memberi satu modal penting: kredibilitas.
Di tengah kebutuhan akan kepemimpinan yang teruji, nama-nama dengan latar profesional kuat memang mudah diperbincangkan.
Bitung, dengan segala potensinya, membutuhkan energi, jaringan, dan visi jangka panjang. Dan publik, seperti biasa, akan membaca tanda-tanda sebelum keputusan resmi diumumkan.
Untuk saat ini, yang tampak baru sebatas sinyal. Namun dalam politik, sering kali sinyal adalah awal dari cerita besar.(*)







