Talaud, Koranmanadonews.com- Bagi masyarakat di wilayah kepulauan, jembatan dan air bersih merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Jembatan menghubungkan warga dengan sekolah, fasilitas kesehatan, pasar, dan tempat kerja. Air bersih menopang kesehatan keluarga serta berbagai kegiatan produktif. Kedua kebutuhan mendasar inilah yang menjadi perhatian dalam Karya Bakti Skala Besar di Kecamatan Essang, Kabupaten Kepulauan Talaud.
Sebagai bagian dari wilayah perbatasan dan kepulauan terluar Indonesia, Kecamatan Essang masih menghadapi tantangan dalam penyediaan infrastruktur dasar. Topografi berbukit dan sungai yang memisahkan permukiman dapat membatasi mobilitas warga.
Kondisi tersebut turut memengaruhi kelancaran distribusi hasil pertanian dan perikanan serta akses masyarakat terhadap pelayanan publik.
Pada saat yang sama, penyediaan sumber air bersih membutuhkan perencanaan yang sesuai dengan kondisi setempat.
Karakteristik geologi yang kompleks menuntut pemahaman mengenai lapisan bawah permukaan sebelum menentukan lokasi pengeboran.
Tanpa informasi yang memadai, pembangunan sumur bor berisiko tidak menemukan sumber air dengan jumlah dan kualitas yang dibutuhkan.
Menjawab kebutuhan tersebut, Universitas Sam Ratulangi bersama Kodim 1312/Talaud, Korem 131/Santiago, Kodam XIII/Merdeka, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud, Pemerintah Kecamatan Essang, dan masyarakat melaksanakan Karya Bakti Skala Besar.
Kegiatan ini berfokus pada pembangunan Jembatan Garuda serta deteksi potensi air tanah menggunakan metode geolistrik.
Kolaborasi tersebut merupakan bentuk pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan di perguruan tinggi diterapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan warga, dengan dukungan pelaksanaan di lapangan melalui sinergi antara TNI, pemerintah, dan masyarakat.
Menghubungkan permukiman dan kegiatan ekonomi.
Pembangunan Jembatan Garuda diarahkan untuk memperkuat konektivitas antarpermukiman.
Kehadirannya diharapkan dapat mempermudah perjalanan warga, memperlancar pengangkutan hasil produksi lokal, serta meningkatkan akses terhadap layanan pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan.
Bagi petani dan pelaku usaha perikanan, akses transportasi yang lebih baik dapat membantu memperlancar perjalanan hasil produksi ke pasar.
Bagi keluarga, konektivitas yang memadai berarti kemudahan dalam memenuhi berbagai kebutuhan dasar.
Manfaat tersebut perlu ditopang oleh mutu konstruksi, keamanan penggunaan, dan pemeliharaan yang teratur.
Karena itu, keberhasilan pembangunan jembatan juga ditentukan oleh kemampuan bersama untuk menjaga fungsinya setelah pekerjaan selesai.
Mencari air dengan dukungan ilmu pengetahuan.
Selain konektivitas, kegiatan ini menempatkan pencarian sumber air sebagai prioritas.
Survei geolistrik resistivitas digunakan untuk membantu memahami susunan lapisan bawah permukaan melalui perbedaan sifat kelistrikan.
Hasil pengukuran kemudian ditafsirkan untuk memperkirakan keberadaan lapisan yang berpotensi menyimpan dan mengalirkan air tanah atau akuifer. Informasi tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan lokasi dan kedalaman sasaran pengeboran.
Namun, indikasi geolistrik belum merupakan jaminan tersedianya air bersih.
Hasil interpretasi perlu dipadukan dengan kondisi geologi setempat dan diverifikasi melalui pengeboran, uji pemompaan, serta pemeriksaan kualitas air.
Langkah ini penting agar keputusan pembangunan sumur memiliki dasar yang lebih kuat.
Melalui pendekatan tersebut, risiko pengeboran yang tidak tepat sasaran diharapkan dapat dikurangi.
Keberlanjutan sumber air selanjutnya perlu dijaga melalui pengaturan pemanfaatan serta perlindungan lingkungan di sekitarnya.
Gotong royong untuk keberlanjutan.
Pelaksanaan program mengedepankan keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan, survei lapangan, pembangunan, hingga pengelolaan sarana.
Warga memiliki pengetahuan tentang kondisi lingkungan, jalur mobilitas, dan pengalaman terkait ketersediaan air yang berharga untuk perencanaan kegiatan.
Universitas Sam Ratulangi berperan dalam kajian teknis, survei geolistrik, analisis hasil pengukuran, serta pendampingan.
TNI mendukung mobilisasi personel, pelaksanaan karya bakti, dan koordinasi di lapangan.
Pemerintah daerah dan kecamatan berperan dalam menyelaraskan kegiatan dengan kebutuhan pelayanan dan pembangunan di wilayah masing-masing.
Target kegiatan mencakup tersedianya Jembatan Garuda yang layak dan aman, informasi potensi air tanah sebagai acuan pengeboran, serta peningkatan kemampuan masyarakat dalam merawat infrastruktur.
Dokumentasi dan publikasi kegiatan juga diharapkan menjadi bahan pembelajaran untuk pengembangan program serupa di wilayah kepulauan lainnya.
Upaya ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama terkait kehidupan sehat, akses air bersih, infrastruktur yang tangguh, permukiman berkelanjutan, dan kemitraan pembangunan.
Harapan masyarakat Essang bertumpu pada manfaat yang dapat dirasakan dalam keseharian: perjalanan yang lebih mudah, hasil produksi yang lebih lancar untuk dipasarkan, serta sumber air yang dapat diandalkan.
Melalui kerja sama dan pemeliharaan yang konsisten, pembangunan Jembatan Garuda serta kajian potensi air tanah diharapkan menjadi langkah nyata menuju pemenuhan kebutuhan tersebut.
Penulis : Prof. Dr. Eng. Ir. Lusia Manu dan Dr. Ir. Chatrioen A. L. Sinjal, M.Sc.






