Koran Manado News- Bawaslu Provinsi Sulut mengadakan silaturahmi penguatan kelembagaan partai politik (parpol) bertempat di kantor Bawaslu Provinsi Sulut, Jalan Sam Ratulangi Manado, Senin, (06/07/2026).
Tampil sebagai narasumber Pakar Kepemiluan, Prof Dr Valina Singka Subekti MSi, yang juga Guru Besar FISIP Universitas Indonesia (UI) dan Kepala Divisi Teknis Penyelenggaraan KPU Sulawesi Utara, Salman Saelangi.
Ketua Bawaslu Provinsi Sulut, DR Ardilles Mewoh SIP MSi, mengatakan, penguatan kapasitas kelembagaan dilakukan di masa jeda antara Pilkada dan menjelang tahapan persiapan Pileg mendatang.
“Harapan kami, parpol melakukan evaluasi menghadapi agenda politik berikutnya,” ujar Mewoh, saat pengantar pembukaan kegiatan.
Lanjutnya, parpol bisa menjadi pionir terwujudnya agenda demokrasi seperti Pileg, Pilpres dan Pilkada yang berkualitas.
Prof Dr Valina Singka Subekti MSi, saat membawakan materi, mengatakan, tingkat kepercayaan publik terhadap parpol cenderung merosot dari waktu ke waktu.
“Itu hasil sejumlah riset dan survei. Satu di antaranya oleh Litbang Kompas,” ungkap Prof Dr Valina Singka Subekti MSi.
Lanjutnya, Legitimasi parpol semakin tergerus.
“Ini jadi catatan kita bersama. Kenapa? Parpol sibuk dengan agendanya sendiri. Sibuk memoles citra, lupa pada tugas utamanya, mewujudkan demokrasi,” ujar mantan Anggota KPU RI 2004-2009.
Menurutnya, hingga kepercayaan terhadap parpol semakin turun. Apalagi di era digital, generasi Z sebagian dari pemilih.
“Ini sebuah ironi sebab di satu sisi parpol adalah pilar, sarana menuju kekuasaan, mewujudkan keadilan kesejahteraan tapi di sisi kepercayaan menurun,” tukasnya.
Dia juga menjelaskan, hasil survei lainnya, parpol termasuk salah satu lembaga yang paling tidak dipercaya publik.
Alasannya, masyarakat merasa ketidakhadiran dan peran parpol. Masyarakat merasa kepentingan, suara mereka tidak didengar.
“Ketika mereka butuh, mereka rasa parpol itu jauh,” tandas Prof Dr Valina Subekti.
Karena itu, katanya, sekarang muncul tren perubahan orientasi dari parpol ke kandidat.
Orang memilih bukan karena parpol tapi orang atau figur yang diusung. Ini yang dinamakan personalisasi politik. Parpol jadi sebatas kendaraan politik.
Bagi para calon, parpol penting hanya setiap lima tahun sekali. Itu saat pemilu legislatif saja. Sementara tingkat volatilitas politik parpol cenderung turun.
“Dari sekian banyak parpol di Indonesia, salah satu parpol yang tingkat militansi pendukungnya relatif tinggi adalah PDI-Perjuangan,” beber Prof Dr Valina Singka Subekti MSi.
Asumsinya, Megawati Soekarno Putri masih ketua umum. Sosok Mega mampu menyatukan semua fusi di partai banteng.
Faktor lainnya, mengapa parpol tergerus, mantan anggota DKPP ini, menandaskan kaderisasi parpol yang gagal.
” Banyak kader parpol instan. Parpol terjebak pada pragmatisme. Demi tujuan singkat, melupakan kaderisasi. Gaya potong kompas inilah yang meluaskan jalan bagi praktik politik dinasti dan dinasti politik,” tandasnya.
Menurutnya, parpol hanya memilih calon yang populer dan punya modal finansial kuat.
“Ya ini tak dapat dipungkiri juga karena sistem politik kita yang memang butuh biaya besar,” katanya.
Prof Dr Valina Subekti juga menilai, saat ini terdapat tren mengarah pada kartelisasi parpol. Koalisi besar di pemerintahan melemahkan fungsi check and balance di pemerintahan.
“Peta politiknya mengarah pada homogen,” jelasnya.
Prof Dr Valina Subekti menambahkan, fungsi parpol tetap strategis karena dijamin perundang-undangan. Namun, parpol tak boleh menutup mata karena fakta diuraikan di atas.
“Ke depan, parpol harus mengubah gaya. Harus lebih terbuka. Gaya sentralistio yang selama ini berjalan bakal ditinggalkan,” pungkas Prof Dr Valina Subekti.
Kepala Divisi Teknis Penyelenggaraan KPU Sulawesi Utara, Salman Saelangi tampil memberikan materi terkait pemutakhiran data parpol yang sementara berjalan.
“Pemutakhiran bisa dilaksanakan terpusat oleh DPP atau berjenjang di semua tingkatan hingga DPC,” ujarnya.
Penguatan kelembagaan ini, nampak hadir langsung Ketua Bawaslu Kota Manado Brilliant Maengko, para perwakilan parpol di Sulut,yakni, Perindo, Gerindra, Golkar, Partai Ummat, Partai Buruh, Gelora, dan lain-lain.
Sedangkan Ketua Bawaslu Kab/Kota lainnya se- Sulut hadir secara daring. (ferry)







