Minut,Koranmanadonews.com — Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia (PABI) Sulawesi Utara, organisasi profesi yang mewadahi para ahli bedah di Indonesia, bekerjasama dengan PT Indomed Khanasti Indonesia (INDOMED) dengan dukungan RS Sentra Medika Minahasa Utara sebagai tempat pelaksanaan workshop bertajuk “Meet The Expert: Indomed Laser Exclusive Session”.
Kegiatan ini menjadi forum edukasi dan
pertukaran pengetahuan bagi dokter spesialis untuk mendalami perkembangan
teknologi medis, khususnya pemanfaatan laser dalam prosedur bedah minimal invasif.
Salah satu fokus utama dalam workshop ini adalah ENDOTEQ, teknologi laser medis asal Jerman yang dikembangkan untuk mendukung berbagai aplikasi tindakan bedah.
Teknologi ini menjadi bagian dari perkembangan pendekatan minimal invasif yang memungkinkan penanganan jaringan secara terarah melalui prosedur tertentu tanpa selalu memerlukan pembedahan terbuka.
Melalui sesi edukasi yang dipandu oleh para praktisi medis, peserta akan mendalami aplikasi Endovenous Laser Ablation (EVLA)
untuk bidang bedah vaskular serta Laser Hemorrhoidoplasty (LHP) dan Fistula Laser Closure (FiLaC) untuk bidang bedah umum dan digestif.
EVLA juga dikenal oleh masyarakat umum sebagai “laser varises”, yaitu metode yang
digunakan untuk perawatan varises pada kaki.
Dalam istilah medis, EVLA merupakan
prosedur yang memanfaatkan energi laser untuk menangani vena yang mengalami
varises.
Pengenalan teknologi dalam workshop ini tidak hanya berfokus pada perangkat,
tetapi juga pada pemahaman mengenai karakteristik prosedur, ketepatan indikasi,kompetensi operator, serta pertimbangan keselamatan pasien.
Dengan demikian,
kegiatan ini diharapkan dapat memperluas wawasan tenaga medis mengenai
perkembangan teknologi laser dan relevansinya dalam praktik klinis sesuai kebutuhan
pasien.
ENDOTEQ merupakan merek teknologi laser medis yang dikembangkan oleh ENDOTEQ
Medizinische Laser Deutschland GmbH di Düsseldorf, Jerman.
ENDOTEQ menggunakan
laser dioda dengan panjang gelombang 1.470 nanometer.
Karakteristik panjang
gelombang ini berkaitan dengan penyerapan energi oleh air dalam jaringan, sehingga
energi panas dapat diaplikasikan secara terarah sesuai teknik dan tujuan prosedur.
Sistem laser dan serat aplikator yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan
tindakan serta aplikasi klinisnya.
Melalui workshop ini, ENDOTEQ diperkenalkan dalam konteks pengembangan
pengetahuan klinis, bukan sekadar sebagai perangkat medis.
Para peserta diharapkan
memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai aplikasi teknologi laser dan
faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum penerapannya dalam pelayanan kesehatan.
Sesi pertama dalam acara ini dibawakan oleh dr. Billy Stephanus Karundeng, Sp.B,
Subsp.BVE(K), yang juga menjabat sebagai Ketua PABI Sulawesi Utara.
Ia akan
menyampaikan materi “EVLA Session Class: Vascular Surgeon Only”, dengan fokus pada aplikasi teknologi laser dalam bidang bedah vaskular.
EVLA atau Endovenous Laser Ablation merupakan prosedur minimal invasif yang
menggunakan energi laser untuk menutup vena target melalui akses intravena.
Prosedur ini digunakan pada kondisi vena tertentu, termasuk varises, berdasarkan hasil
pemeriksaan dan indikasi klinis pasien.
Dalam sesi khusus bagi dokter bedah vaskular ini, pembahasan diarahkan pada prinsip kerja EVLA, pertimbangan teknis prosedur, pemilihan pasien, dan pentingnya
penguasaan teknik oleh operator.
Pemahaman tersebut diperlukan agar penggunaan
teknologi dapat disesuaikan dengan karakteristik kondisi vaskular dan kebutuhan klinis masing-masing pasien.
Sebagai Ketua PABI Sulawesi Utara, keterlibatan dr. Billy juga menempatkan edukasi dan
pertukaran pengetahuan profesional sebagai bagian penting dari kegiatan ini.
“Perkembangan teknologi laser memberikan pilihan pendekatan dalam penanganan
berbagai kondisi vaskular.
Namun, penerapannya tetap harus didasarkan pada indikasi
yang tepat, pemahaman terhadap teknik prosedur, dan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi pasien.
Forum edukasi seperti ini menjadi kesempatan bagi dokter untuk
memperdalam pengetahuan serta mendiskusikan perkembangan teknologi secara
profesional.”ujar dr. Billy, Sp.B.,Subsp.BVE(K) dalam sesi workshop.
Sesi kedua menghadirkan dr. Tony Sukentro, Sp.B, dengan materi “LHP and FiLaC
Session Class: General & Digestive Surgeon”.
Sesi ini membahas dua aplikasi teknologi
laser yang relevan dengan bidang bedah umum dan digestif, yakni LHP dan FiLaC.
LHP atau Laser Hemorrhoidoplasty merupakan prosedur berbasis laser yang digunakan
untuk menangani hemoroid atau wasir pada pasien dengan indikasi yang sesuai.
Pendekatan ini memanfaatkan energi laser pada jaringan target dan dapat menjadi salah satu pilihan terapi setelah dokter mengevaluasi kondisi serta tingkat keparahan
penyakit.
Sementara itu, FiLaC atau Fistula Laser Closure merupakan teknik yang memanfaatkan
energi laser untuk membantu penanganan saluran fistula tertentu.
Pemilihan prosedur
mempertimbangkan anatomi fistula, kondisi jaringan, karakteristik penyakit, dan
kebutuhan untuk menjaga fungsi struktur di sekitarnya.
“Dalam bidang bedah umum dan digestif, pemahaman terhadap perkembangan
teknologi perlu disertai penguasaan indikasi dan teknik penggunaannya.
LHP dan FiLaC merupakan contoh aplikasi laser yang dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu.
Melalui edukasi klinis, dokter dapat memperdalam pemahaman mengenai karakteristik
prosedur dan faktor yang perlu diperhatikan sebelum menentukan pilihan terapi.” Ujar
dr. Tony,Sp.B.
Melalui sesi ini, dokter peserta diharapkan dapat memahami prinsip kerja kedua
prosedur, karakteristik penggunaannya, serta pertimbangan klinis yang diperlukan
dalam menentukan pendekatan tindakan.
Diskusi juga menjadi kesempatan untuk
menempatkan teknologi laser sebagai salah satu pilihan dalam pengambilan keputusan medis yang berbasis evaluasi pasien.
Workshop ini turut menghadirkan dr. Jassy Suzzane Resa Ranti, Sp.B, sebagai
moderator sekaligus dokter spesialis bedah di RS Sentra Medika Minahasa Utara.
Keterlibatannya memberikan perspektif praktisi mengenai pentingnya pengembangan
kompetensi, pembaruan informasi teknologi medis, dan evaluasi kesesuaian metode
tindakan dengan kebutuhan pelayanan di rumah sakit.
“Pembaruan pengetahuan merupakan bagian penting dari pengembangan profesional
dokter.
Melalui forum seperti ini, kami dapat mengenal perkembangan teknologi medis,
memahami karakteristik prosedur yang tersedia, dan mendiskusikan relevansinya
dengan kebutuhan pasien serta kondisi pelayanan di rumah sakit.” ujar dr. Jazzy,Sp.B
Dalam praktik sehari-hari, pemanfaatan teknologi tidak hanya berkaitan dengan
ketersediaan perangkat, tetapi juga kesiapan tenaga medis, fasilitas pendukung,
prosedur operasional, serta kemampuan melakukan evaluasi klinis secara tepat.
Karena itu, kegiatan edukasi yang mempertemukan dokter dengan perkembangan teknologi
medis dapat menjadi sarana untuk memperluas wawasan dan mendorong diskusi
antartenaga kesehatan.
Dari sisi industri, Abdurrahman Oman,S.I.Kom.,M.I.Kom selaku Direktur Business
Development dan Operasional INDOMED menyoroti pentingnya mempertemukan
perkembangan teknologi medis dengan kebutuhan praktisi kesehatan melalui edukasi
dan dukungan profesional.
Kolaborasi dengan organisasi profesi dan institusi pelayanan kesehatan menjadi salah satu pendekatan untuk memperkenalkan teknologi secara lebih terarah kepada tenaga
medis.
Dalam konteks ENDOTEQ, pengenalan perangkat disertai pembahasan aplikasi klinis agar peserta memperoleh gambaran mengenai fungsi teknologi, karakteristik
prosedur, serta aspek yang harus diperhatikan dalam penggunaannya.
“Bagi INDOMED, pengenalan teknologi medis perlu berjalan beriringan dengan edukasi dan pemahaman yang tepat.
Melalui Meet The Expert: Indomed Laser Exclusive Session,
kami ingin membuka ruang diskusi bagi para dokter untuk mengenal aplikasi teknologi laser ENDOTEQ lebih jauh,sekaligus memahami bahwa penggunaan teknologi harus
selalu mempertimbangkan kebutuhan klinis, kompetensi operator, dan keselamatan
pasien.” ujar Abdurrahman Oman dalam wawancara.
Sebagai rumah sakit yang menyediakan tempat pelaksanaan workshop, RS Sentra Medika Minahasa Utara turut berperan dalam mendukung terselenggaranya forum edukasi bagi tenaga medis.
Fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran penting dalam
pengembangan kompetensi profesional, pertukaran pengetahuan, dan pembahasan
perkembangan teknologi yang relevan dengan pelayanan pasien.
“Kami menyambut baik kegiatan edukasi yang mempertemukan para dokter spesialis dan pihak yang bergerak di bidang teknologi medis.
Forum seperti ini dapat mendukung
pertukaran pengetahuan dan pengembangan kompetensi profesional.
Harapannya,
pembahasan mengenai perkembangan teknologi dapat menjadi bagian dari proses
pembelajaran berkelanjutan dengan tetap mengutamakan mutu pelayanan dan
keselamatan pasien.” ujar dr. Ivan Wijaya Widiatomo,MARS selaku direktur RS Sentra Medika Minahasa Utara.
Dukungan rumah sakit terhadap kegiatan edukasi seperti ini dapat menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan pembelajaran profesional yang berkelanjutan.
Diskusi antara dokter, organisasi profesi, dan penyedia teknologi medis juga memungkinkan
berbagai perspektif bertemu, mulai dari kebutuhan klinis hingga aspek teknis
penggunaan perangkat.
Melalui workshop Meet The Expert: Indomed Laser Exclusive Session, yang
diselenggarakan oleh PABI Sulawesi Utara bersama INDOMED ini menghadirkan ruang
edukasi yang mempertemukan aspek klinis, teknologi, dan kebutuhan pelayanan
kesehatan.
Keterlibatan para dokter spesialis serta dukungan RS Sentra Medika
Minahasa Utara memperkuat fokus kegiatan pada pengembangan pengetahuan dan
pertukaran informasi profesional.
Pembahasan EVLA, LHP, dan FiLaC diharapkan memperluas pemahaman peserta
mengenai beragam aplikasi teknologi laser dalam prosedur bedah minimal invasif.
Pada saat yang sama, kegiatan ini menegaskan pentingnya penilaian klinis, ketepatan
indikasi, kompetensi operator, dan keselamatan pasien sebagai landasan penggunaan
teknologi medis.
Ke depan, kolaborasi antara organisasi profesi, institusi pelayanan kesehatan, dan
penyedia teknologi diharapkan dapat terus membuka kesempatan bagi tenaga medis
untuk mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi, sehingga setiap inovasi dapat
dievaluasi secara tepat sesuai kebutuhan praktik dan standar pelayanan kesehatan. (ferry)






